home
about me
fave picks
contact
Ngobrol2 Tentang Bisnis Online ;-)
Saturday, May 09, 2009
Have u signed up for this event?? ;-)

Labels: , ,

Ibu di media - Tabloid NOVA
Monday, September 03, 2007
Ibu, tante Nad dan tante Sotya diwawancara oleh tabloid Nova. Jadi ceritanya minggu lalu Ibu ditelpon olwh wartawan Nova, pak Hasto namanya...beliau tertarik dengan komunitas BIB yang dimoderatori Ibu dan tante2 di atas ini ;-). Jadi deh janjian untuk ketemuan....pilih2 hari (sok sibuk dot com) ....sekalian Ibu memang ada miting dengan tante-tante mods.

Berikut ini nih wawancaranya yang dah tayang di Nova No. 1019/XX, 3-9 September 2007
atau bisa klik di link ini
http://www.tabloidnova.com/articles.asp?id=14584


MEREKA BUKAN BUNDA BIASA



Jelas, ibu- ibu ini memang bukan bunda biasa, seperti mereka menyebut dirinya. Lewat bisnis online. mereka menjaring uang tanpa harus repot-repot ke kantor. Dunia maya memang sudah lama diakrabi Nadia M. Yuniardo (32). Mantan penyiar radio ini pernah bekerja sebagai jurnalis untuk sebuah website (situs) luar negeri. "Jadi, kerjanya dari rumah, pakai e-mail." Sebagai pengguna internet, tak heran kalau ia kemudian bergabung dengan komunitas Dunia-Ibu dan bersahabat dengan pendiri situs itu, Dini Shanti. "Kami jadi sahabat dan berbisnis bareng." Mulailah Nadia memiliki beberapa bisnis online.
"Atas anjuran Dini juga, saya bikin window, supaya orang kalau mau bisnis sama saya enggak segan. Saya juga bikin blog pribadi dengan nama Bunda in Biz (BiB). Isinya tentang diri saya yang work at home mom. Apa aja yang saya kerjakan di rumah, saya tulis di blog itu," kisah ibu dua anak ini. Tak berhenti di situ, Nadia kemudian membuat newsletter. "Hanya 3 bulan berselang, terkumpul sekitar 500 orang yang ikut newsletter.

Akhirnya, bersama beberapa teman, saya bikin milis," kata Nadia yang memiliki tak kurang dari 3 bisnis dan mengelola 10-an situs. "Enaknya kalau online, tinggal pakai auto-responder. Sekali klik, saya bisa ngirim e-mail ke 1.500 orang sekaligus. Semuanya dengan personalisasi. Misalnya, 'Halo Sarah, Halo Nadia…"

Tujuan BiB, katanya, adalah menjadi komunitas pertama bagi para perempuan yang ingin bisa mengembangkan potensi bekerja dari rumah. "Caranya dengan diskusi online di milis dan kopi darat (bertemu langsung, Red.)." Selain itu, BiB juga membuat aneka workshop. Dari cara memasak sampai cara bikin blog. "Rencananya, September ini kami ingin menggelar event besar dengan tema keuangan," tuturnya.

BiB juga sudah menerbitkan buku keterampilan tentang aneka kemasan untuk usaha. "Sekarang sedang nyiapin buku kedua. Ternyata yang pertama hasilnya bagus, sudah cetak ulang. Jadi, kami diminta bikin lagi. Kali ini lebih advance. Mudah-mudahan, sih, berlanjut," harap Nadia.

IBARAT KOMPOR KETEMU MINYAK

Apa, sih, keuntungan bergabung di BiB? "Yang jelas, networking. Memang, dari sekitar 1.300 anggota milis BiB, nggak semua aktif dan berani terjun berbisnis," kata Sharah Saleh Sugarda (32), salah seorang dari 6 moderator BiB. "Tapi, para ibu yang sudah terlalu lama di rumah, biasanya ingin kembali produktif saat anak mulai besar. Nah, mereka yang awalnya hanya menganggap bisnis sekadar wacana dan kemudian menemukan milis kita, akhirnya nyoba. Jadi, selain networking, yang saya tangkap, ibu-ibu itu sadar bahwa ternyata 'O, ada, toh, yang kayak gini.' Mereka jadi bersemangat," kata Sharah. "Jadi, kayak kompor bertemu minyak."
Dari silang diskusi anggota di milis, "Kami menemukan, persoalan modal jadi kendala yang paling banyak dikeluhkan anggota." Kalau ada anggota yang punya problem, biasanya dibantu sesama anggota milis. Seperti biasa, pendekatannya ala ibu-ibu. Misalnya, 'Kalau pengalamanku, Mbak…' "Pendekatan begini malah lebih masuk. Soalnya, problem yang dihadapi sehari-hari sama, jadi lebih pas dan kena dengan pembahasan sesama anggota," kata Nadia.

Selain itu, topik lain juga menjadi materi diskusi seru. Seperti cara membagi waktu sebagai istri dan ibu, sampai keberanian keluar dari pekerjaan. "Kami enggak pernah menyuruh siapa pun untuk resign, lho. Tapi, kalau ada anggota milis yang resign dari pekerjaannya, biasanya mereka dengan bangga bikin pengumuman di milis dengan menuliskan, 'Insya Allah, bulan depan saya akan resign'.

'"Sharah yang pernah bekerja di lantai bursa, sejak dua tahun silam memilih berhenti demi mengurus anak. "Kebetulan, seminggu sebelum resign, saya dapat undangan menjadi member BiB. Wah, pas banget. Semuanya mengalir begitu saja." Ternyata, setelah tak bekerja, Sharah merasa "gerah". Apalagi, "Kebetulan suami kuliah lagi keluar negeri dengan biaya sendiri. Ia malah harus keluar dari pekerjaannya. Nah, saat itu saya merasa sangat terbantu dengan binis online saya karena masuk BiB. Alhamdulillah, saya punya pegangan untuk membiayai keluarga dan anak-anak," kata Sharah yang kini punya 3 bisnis online, dari busana muslim hingga MLM. "Tiga saja sudah lumayan sibuk, sambil ngurus anak. Mereka inilah yang memacu saya. Jadi, sekalipun ide bisnis sudah ada di benak, tapi BiB memacu saya lebih cepat karena setiap hari ngomongin bisnis. Jadi, BiB ini memang kayak kompor," katanya sambil tertawa.


KERJA BERDASTER

Hal senada diungkapkan Sotya Dewati (30). Mantan manajer perusahaan multinasional ini memang sebelumnya sudah punya bisnis beddings. "Tapi enggak keurus karena kesibukan kerja. Baru setelah berhenti dari kantor, saya mulai lagi," ungkap moderator BiB yang jago bikin website ini. Sotya tak pernah menyesali pilihannya berbisnis online. "Malah untung karena hemat waktu dan uang. Jauh lebih murah ketimbang buka outlet. Paling kita hanya keluar cost buat hosting dan domain."
Dari sisi pendapatan, ketiganya mengaku sangat terbantu dengan bisnis online mereka. "Bisa dibilang, kalau saya nggak ngapa-ngapain, keuangan rumah tangga bisa timpang. Tapi dengan bergabung di BiB dan punya bisnis, keuangan keluarga kini sangat terbantu," kata Nadia.

Soal membagi waktu? "Nah, itu susah-susah gampang. Kadang sampai dimarahin suami juga. Yang jelas, kami ini kalau janjian 'kerja' pasti malam hari, setelah anak-anak tidur. Setelah semua urusan rumah beres, barulah kami online, chatting, ngomongin kerjaan. Itu bisa sampai jam 03.00." Sepintas, kata mereka, "Orang menganggap kami hanya chatting atau main internet. Padahal, kami sedang kerja. Anak-anak sering tanya, 'Kok, Mama main komputer terus?' Kayak Sotya ini, kerjanya bikin situs, jadi kelihatannya memang main komputer," kata Nadia.

Yang jelas, "Kami ingin menunjukkan, meski 'cuma' berdiam di rumah, kami bukan bunda biasa. Kalau di rumah, kami memang dasteran. Malah, kadang pas chatting, ada yang tiba-tiba menghilang. Begitu nongol, ternyata barusan beli sayur di tukang sayur keliling. Jadi, ibu-ibu banget." Mereka pun berpendapat, "Kami tidak pernah bilang bahwa ibu yang ngantor itu salah. Sama sekali tidak. Ini soal pilihan. Kebetulan, kami lebih pas begini, kerja di rumah. Juga bukan berarti ibu yang ngantor itu tak bisa menyediakan waktu yang berkualitas buat anaknya. Mereka juga full time mom, kok. Buktinya, kalau anak sakit, pasti mereka buru-buru pulang. Ibu, mah, di mana-mana sama saja, inginnya selalu dekat sama anak-anak."

SEBAIKNYA DARI HOBI

Bagaimana cara berbisnis via internet (internet marketing) seperti yang dilakukan Bunda in Biz? Internet marketing sendiri bisa dibagi atas beberapa kategori. Yang pertama, bisnis biasa/konvensional yang dipromosikan secara online, misalnya melalui website, weblog atau email. "Contohnya toko buku online, toko jilbab online, dan sebagainya. Bisnis seperti ini sebaiknya berangkat dari hobi. Kalau suka masak, sebaiknya pilih bisnis bikin kue, misalnya," kata Nadia.

Bisa juga hanya menjadi reseller. "Misalnya saya jual jilbab, terus ada yang berminat jadi reseller. Reseller ini nggak perlu bikin situs atau blog. Cukup minta foto produk, kemudian ia kirim ke pembeli lewat email," kata Nadia. Tapi, biasanya dianjurkan untuk punya blog/situs. Selain itu ada juga produk-produk internet (reseller, afiliasi) yang perusahaannya sudah menyediakan website replikasi, yang nantinya bisa dipersonalisasi dengan ID dari masing-masing reseller.

Yang kedua bisnis MLM yang dijalankan dan dipromosikan secara online. Ada juga yang benar-benar bisnis online yang dikenal dengan istilah Affiliate Marketing (AF). "Simpelnya, AF adalah bisnis mempromosikan produk orang lain melalui internet." Bisnis berikutnya adalah gabungan semuanya," kata Nidia. Contohnya, http://www.bundainbiz.com/belajarweb. "Di situ saya menjual produk e-book Panduan Membuat Website melalui internet sekaligus diafiliasikan. Saya menaruh banner afiliasinya di web utama, http://www.bundainbiz.com/. Bila ada yang mengklik banner tersebut dan kemudian sesampainya di web http://www.bundainbiz.com/belajarweb ia melakukan pembelian, saya akan mendapatkan komisi," ujar Nadia.

Yang perlu diingat, memang ada affiliate yang penipuan, "Tapi tidak sedikit kok, bahkan amat banyak, yang betul-betul AF. Satu lagi yang penting, jangan mengirimkan email promosi pada orang yang tidak meminta," saran Nadia sambil menambahkan, pembayaran transaksi bisa lewat ATM atau internet banking. Setelah itu, barulah barang dikirimkan.

Hasto Prianggoro
FOTO-FOTO: Widi Nugroho

Labels:

Ibu di Media - "majalah DUIT"
Thursday, April 12, 2007
Hai.....Nadja Labelnya Ibu Sharah dan tante Yeyen diliput majalah Duit lho....jadi berita utama pula (malu-malu dot com). Ini ditulis ulang oleh tante Yeyen...asli tanpa edit....jadi kalau penulisan nama Ibu Sharah salah (di cover depan dan di beberapa bagian artikel ditulisnya Sarah) dan di artikelnya ditulis Ibu resign tahun 2006 setelah melahirkan anak ke-2 (gak tahu kenapa bisa salah tulis gini...Ibu kan resign karena ingin jadi full time Mom dan to start Her Own Biz sambil ngurus Lila dan Nawal lho...lagian Nawal kan lahirnya tahun 2003 yakkk).

Majalah bisnis "DUIT" No.04/II/April 2007



DUA SAHABAT MENYULAM PITA

Sudah lama Yeyen bermimpi punya usaha sendiri. Bergandeng tangan dengan sahabatnya Sharah yang sudah duluan mengundurkan diri sebagai karyawati, Yeyen memproduksi mukena bordir dan sulam pita bermerk Nadja Label.

Belasan tahun yang lalu, Yeyen pernah bermimpi akan menjadi seorang desainer. Tamat SMA dirinya sengaja memilih jalur desain, tetapi ternyata kenyataan tak semanis apa yang dipikirkannya. "Tahun 1994 setelah tamat SMA saya akhirnya masuk FEUI jurusan Studi Pembangunan yang penuh dengan hal-hal berbau ekonometri, statistik, ekonomi mikro-makro dan sejenisnya. Tapi keinginan lama menjadi desainer tetap ada.", ucapYeyen Nursjid kepada DUIT!

Lajang kelahiran 24 Mei 1976 ini lalu mencoba belajar fashion lebih serius di sebuah sekolah fashion ternama di Jakarta. "Di sana saya belajar membuat pola pakaian, menggunting dan menjahit. Bangga sekali memakai pakaian buatan sendiri ke kantor.", sambung Marketing Manager PT KEJAR ini.

Berkali-kali pula dirinya mengaku nyaris meninggalkan pekerjaan sekarang demi mimpitersebut. Bahkan suatu kali dia penah melamar di sebuah perusahaan berbasis fashiondari Spanyol. Tapi apa mau dikata, ternyata dewi fortuna tidak memihaknya. "Strategi saya lakukan lagi. Kenapa harus masuk menjadi karyawan? Kenapa tidak saya coba untuk menjadi owner dan producer?", ujar Yeyen yang akhirnya memberanikan diri belajar kembali di sebuah tempat kursus berbasis internasional untuk memulai menuai mimpinya tadi.

Yeyen lalu menghubungi Sharah Saleh, sahabatnya sesama alumnus FEUI untuk diajak menjadi mitra bisnisnya. Sharah sendiri sebelumnya tercatat sebagai manajer SDM PT KSEI. Namun dia sudah mengundurkan diri sejak April 2006 lalu karena kelahiran anaknya yang kedua.
Dengan modal patungan berdua sekitar Rp 30 juta, keduanya sepakat memproduksi mukena bordir dan aneka bahan sulam pita/benang. Mereka juga menyediakan aneka kaos muslim."Produk kami namakan Nadja Label. Nadja dari bahasa Arab yang berarti wanita yang mulia. Kami berharap menjadi wanita yang mulia. Kemudian supaya lebih khas dan menunjukkan bahwa ini merek dagang kami, dibubuhi lagi dengan kata Label. Jadilah Nadja Label.", papar Sharah Saleh (31).

Berbekal keyakinan diri dan support dari keluaga masing-masing, akhirnya Nadja Label di-release pada Oktober 2006 lalu dan dilincurkan pertama kali lewat pameran Femme di JHCC, Jakarta. "Enggak disangka, omset yang kami dapat dari pameran selama 4 hari itu di luar dugaan sekita Rp 24 juta.", kata Sharah lagi.

Sejak itu keduanya makin semangat mengembangkan usaha. "Pemasarannya kami lakukan lewat pameran dan lewat internet. Saya kebagian tugas untuk promosi, mencari sponsor atau menyiapkan pameran. Sarah kebagian tugas di produksi, karena workshopnya memang di rumah dia.", terang Yeyen yang mematok harga mulai dari Rp 120-450ribu (sulam sutra) dan Rp 350-480 ribu (mukena).

"Yah, sekarang dengan tetap berstatus karyawan, saya bisa menikmati self achievement dan mewujudkan mimpi saya with strong effort, dan saya pun masih bisa menikmati hobi jalan-jalan saya.", tandas Yeyen, penggemar traveling dan adventuring ini.

Labels:

Ibu di Media - "koran REPUBLIKA"
Sunday, January 07, 2007
Republika, 6 Januari 2007

Momtrepreneur
http://www.republika.co.id/kirim_berita.asp?id=277972&kat_id=458&edisi=Cetak

Berkantor di rumah, mereka mempunyai jam kerja melampaui jam kerja kantor. Tapi, mereka bisa mengasuh anak-anaknya.

Sembari menggelendot di punggung Nadia M Yuniardo (30 tahun), buah hatinya kadang melontarkan protes kecil. ''Kok mama maen komputer melulu sih?''
Seharian, Nadia pembuat milis bundainbiz- memang hanya di rumah. Tapi, ia tak semata sebagai ibu rumah tangga. Ia juga menjalankan bisnis. Jika ia sedang berada di depan komputer, tentu saja ia sedang tidak maen komputer, tapi sedang bekerja: menjawab e-mail, melayani pesanan, menulis motivasi untuk dikirim ke milis.

Kadang, saat anak dan suami membutuhkan perhatian darinya, membuat ia menunda pekerjaan. Bukan tak mungkin, pukul 11 malam ia masih bercokol di depan komputer untuk menjawab e-mail, menulis motivasi, atau yang lainnya.

Pilihan berani
Kepala jadi kaki, kaki jadi kepala. Inilah yang dirasakan Sharah Saleh Sugarda (31 tahun) dua tahun lalu: kerja keras banting tulang, tujuh hari dalam sepekan. Sebagai manajer SDM anyar sebuah perusahaan jasa keuangan di Bursa Efek Jakarta (BEJ), pekerjaannya segepok.
Rutinitasnya pun gila-gilaan: berangkat pagi-pagi buta sebelum kedua anaknya, Kalila (5 tahun) dan Nawal (4 tahun), bangun tidur. Pulang ke rumah setelah keduanya tidur pulas. Tak cukup waktu buat si upik.

Saat weekend, tak jarang Sharah digempur jadwal yang lumayan padat. Alih-alih pelesir bersama keluarga, kerap kali ia harus berada di sebuah acara pelatihan karyawan. Jabatannya sebagai manajer SDM menuntutnya untuk itu.

Lulus sebagai sarjana ekonomi, Sharah bekerja sebagai auditor eksternal sebuah perusahaan di BEJ. Pekerjaannya setumpuk. Seringkali ia dituntut bermalam di kantor. Tak jarang harus terbang keluar kota. Ia sempat dirotasi menjadi auditor internal dan belakangan dipromosikan menjadi manajer SDM. Namun, tak ada perubahan berarti: pekerjaan justru kian berjubel. Anak-anak di rumah kian tak terperhatikan.

Rutinitas model begini dilakoni Sharah sepanjang dua tahun. Sepanjang itu pula, ia kehilangan waktu emas bersama kedua buah hatinya: ia tak dapat seratus persen melihat tumbuh kembang mereka. Kalila dan Nawal justru lebih banyak bersama baby sitter-nya.
Hingga momen titik balik itu pun tiba. Suatu waktu Kalila meraih juara lomba membaca doa di TK-nya. Saat itu para peraih penghargaan didaulat naik ke atas panggung. Kecuali Kalila, semua pemenang ditemani ibunya masing-masing. Saat disodori foto-foto acara tersebut, hati Sharah membatin, `'Wah cuma Kalila yang enggak ada ibunya.'' Setelah itu Sharah mengaku amat nelangsa.

Terusik
Naluri keibuan Sharah mulai terusik. Setelah bekerja selama enam tahun, Sharah pun melakukan langkah berani. `'Saya resign dari pekerjaan,'' kata dia. Ia mengaku ingin fokus membesarkan sang buah hati. Meski untuk itu, Sharah mesti rela melepas kariernya yang tengah menanjak. Termasuk gaji yang lumayan menggiurkan.

Untungnya, sebelum resign, Sharah telah menjadi anggota beragam milis. Salah satunya adalah milis www.bundainbiz.com. Ini adalah situs tentang ibu-ibu yang ingin berbisnis, tetapi tetap bisa memomong anaknya di rumah. Sharah memperoleh banyak peluang bisnis, strategi memulai bisnis dari rumah, termasuk motivasi-motivasi berharga. Saat ini Sharah malah didapuk menjadi moderator milis yang beranggotakan 500 ibu-ibu ini.

Berkat relasinya di dunia virtual, Sharah kini sudah dapat menekuni pelbagai bisnis. Di antaranya, bisnis multilevel marketing (MLM) yang menjajakan sebuah produk kosmetik. Ia juga berbisnis kain sulam, busana, serta mukena limited edition dengan label Nadja. Ia menjualnya lewat internet.

Yang jelas, kata dia, semua bisnisnya dirancang agar bisa dikendalikan dari rumah. Order desain kain sulam, misalnya, sudah bisa dilakukan via telepon atau e-mail dan diantar lewat kurir. Untuk prospek MLM, Sharah pun terhitung jarang melakukannya secara off-line (tatap muka), kecuali untuk klien yang kurang melek internet. Praktis saat ini ia adalah seorang mom work at home alias ibu yang bekerja dari rumah.

Sharah tentu tidak sendirian. Ada Nadia dan sekitar 500 ibu yang menjadi anggota milis bundainbiz juga memiliki mimpi yang sama. Yaitu, ''Menghasilkan uang dari rumah, namun tetap bisa mengasuh anak,'' kata Nadia.

Tapi, menurut Nadia, dari sekitar 500 anggota milis itu, baru seperlimanya yang benar-benar telah menjadi mom work at home. Sebagian besar masih dalam tahap transisi. Nah, milis ini menyiapkan tiga amunisi penting: strategi menumbuhkan keberanian memulai usaha di rumah, ajang sharing, sekaligus informasi peluang usaha. Milis bundainbiz dijadikan wadah diskusi topik-topik yang berkaitan dengan bisnis, home business, dan bekerja dari rumah.

Selama 2000 - awal 2006, Nadia menjadi jurnalis lepas website musik di Singapura. Inilah pengalaman awal bekerja di rumah. Pekerjaan ini yang membawanya pada satu kesimpulan: bekerja di rumah dan berselancar di internet adalah comfort zone bagi dirinya.

Bukan cuma itu. Pengalaman enam tahun mengobok-ngobok dunia virtual justru memberinya ilmu berbisnis via internet. Nadia pun mengakhiri karier reporternya. Bermodalkan ini, Nadia banting setir menjadi pebisnis dunia virtual. Ia menjual busana muslim lewat internet, menjalankan bisnis desain website, blog, logo. ''Semuanya bisa dilakukan dari rumah dan hanya bermodalkan satu unit komputer,'' tutur ibu dua anak ini yang mengaku minimal mengantongi Rp 3 jutaan dari bisnisnya ini dalam sebulan. imy

Labels: